1 Pigura, 1001 Benang

Breaking News

6/random/ticker-posts

1 Pigura, 1001 Benang

 



1 Pigura, 1001 Benang adalah kegiatan mengamati suatu objek yang diberikan, kemudian merangkai sebuah kisah di dalamnya.


Naskah berupa cerita FIKSI, bukan artikel. 


Cerita fiksi adalah karya sastra yang berisi cerita rekaan atau didasari dengan angan-angan (fantasi) dan bukan berdasarkan kejadian nyata, hanya berdasarkan imajinasi pengarang.


Genre BEBAS. Ditulis dalam bentuk NARASI (cukup secara singkat, padat, dan jelas).


Gambar:




Dari gambar di atas, silakan dikembangkan sesuai keinginan dan imajinasi kalian.


Boleh merupakan narasi penuh (maks 200 kata), atau dialog penuh (maks 100 dialog), atau narasi + dialog (maks 300 kata).


SnK Karya:

Genre bebas. 

Tema bebas. 

Konflik bebas. 

Karakternya menyesuaikan yang ada di gambar. 


Perhatikan tanda baca dan ketentuan penulisan lainnya. Jangan lupa, karena ini kelas bebas, harus kreatif! Ciptakan karya yang segar dan kreatif, oke?


Pemateri: AP

Posting Komentar

9 Komentar

  1. Nama: Vicke
    Judul: Move On

    Di sinilah aku berada sekarang. Berdiri menghadap sungai yang letaknya tak jauh dari vila tempatku menginap. Kali ini aku menjauh sejenak dari hiruk pikuk ibukota. Pergi seorang diri ke Puncak dan menyewa salah satu vila untukku. Aku sedang tidak ingin ditemani siapapun setelah aku tahu jika kekasihku berselingkuh dengan teman lamanya di belakangku.

    Tak cukup sekali dia berusaha menjelaskan jika sebenarnya ia dan perempuan yang merupakan teman lamanya itu tidak ada hubungan serius, tetapi aku sama sekali tidak percaya. Akupun merasa jika ia hanya main-main supaya aku tidak mengakhiri hubungan ini, terlebih saat perempuan yang menjadi selingkuhannya juga bertemu denganku.

    Dari raut wajahnya, terlihat sekali jika ia senang karena berhasil merebut kekasih orang. Rasa benciku terhadap dua manusia itu bertambah dua kali lipat. Tanpa berpikir dua kali aku mengakhiri hubungan yang sudah begitu lama dijalani, kurang lebih hampir 5 tahun. Kebetulan aku membawa tujuh lembar foto polaroid.

    Foto itu di dalamnya ada aku dan mantan kekasihku. Menghela napas sejenak, lalu aku membuang satu per satu lembar foto polaroid ke sungai, lalu membiarkannya terseret arus sungai. Ini adalah cara terbaik untuk move on dari kisah cinta yang pahit, sepahit kopi kesukaanku.

    BalasHapus
  2. Nama: Cila
    Judul: Kue Ulang Tahun

    Mataku terbelak. Baru aku ingat hari ini adalah hari perayaan yang aku tunggu-tunggu selama beberapa pekan terakhir. Hari oaking spesial, hari paling bahagia.

    Dengan senang dan gembira aku membuat kue ulang tahun. Sekedar untuk merayakannya sendiri di hari bahagia ini. Aku nyaman dengan ketenangan dan kesunyian. Kucing abu sepertiku biasanya suka berpesta, tapi sepertinya aku memang diciptakan menjadi kucing abu yang berbeda.

    Setelah menunggu sekitar satu jam, kue yang kubuat sudah jadi. Ah, menyenangkan.

    Satu jam berlalu. Masih aku tatapi kue ulang tahun yang masih utuh itu. Aku ingin meralat semua kalimatku. Rasanya sepi sekali karena merayakan ulang tahun sendirian ini.

    Sampai seekor tikus datang padaku. Satu-satunya hewan yang ada di rumah besar ini hari ini. Aku tiba-tiba megajaknya makan kue bersama. Ia tentu saja tampak kaget dengan reaksiku yang tiba-tiba. Tapi sudahlah, aku memang seketika merasa kesepian kali ini.

    BalasHapus
  3. Nama: Eka
    Judul: Kebaikan Sang Kucing

    "Tunggu tikus, aku sedang lelah, maka dari itu aku tidak akan mengejarmu hari ini. Kemarilah," ujar Kucing.

    "Lalu kalau bukan untuk mengejar dan memakan ku, untuk apalagi kamu memanggilku?" Tikus terheran dengan sikap Kucing hari ini.

    "Tuanku selalu mengajarkan aku tentang berbagi, maka dari itu aku ingin memberi cheesecake ini padamu."

    "Tidak kamu taruh racun di dalamnya, kan? Atau diberi jebakan di dalam cake itu?" Tikus tentu saja curiga, karena Kucing memang selalu mengerjainya.

    "Saat aku sedang berbaik hati, tidak bisakah kamu percaya aku benar tulus? Aku sadar diri aku jahat, jahil, tetapi tidak bisakah kamu menghargai ku ketika aku ingin mencoba menjadi baik?" Tanya Kucing.

    "B-baiklah, aku hargai pemberianmu."

    BalasHapus
  4. Nama: Gita
    Judul: Puding Caramel Topping Ceri dan Mimpi di Siang Hari

    Wah, tinggi sekali!

    Ugh, wanginya juga menggoda, manis-manis ualala. Mataku langsung menelaah tiap sudut, ada pigura, juga sofa, dan rak-rakan yang diisi guci. Terlihat mewah untukku si rakyat jelata.

    Apakah kali ini aku berperan menjadi putri Disney? Kalau iya mungkin aku ingin jadi Jasmine, tidak buruk juga menanti si Aladin. Aku langsung terkikik nista, bayangan indah itu seketika lenyap ketika sesuatu berbulu abu-abu membawaku, ouh ternyata sedari tadi aku ada di atas meja.

    Sialan, ternyata aku hanya seonggok puding caramel yang diatasnya ada krim juga ceri, aku tau ketika mataku dengan jelalatan memindai semua sisi dan di pojok sana ada sebuah cermin. Oh tuhan, bahkan di alam mimpi pun bentukku tak lebih baik dari tiang listrik, cicak di dinding, atau raketnya Susi Susanti. Ah setidaknya aku naik pangkat sedikit menjadi puding dengan buah ceri? Dan tunggu, bukan kah itu Tom and Jerry? Sialan, bisa-bisanya mereka bentuknya lebih sempurna dariku yang di dunia nyata jadi manusia, pasti ini karena sebelum tidur siang aku nonton dua hewan tengil ini. Memang ya kalau tidur siang, mimpinya selalu ketiban sial!

    BalasHapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  6. Nama: Ziki Ramadhan
    Judul: Tom yang Baik

    “Hai, Jerry,” sapa Tom.

    “Ehmm, hai.” Jerry jelas bingung dengan Tom. Jarang-jarang ia menyapanya dengan ramah seperti ini.

    “Aku tahu kamu bingung dengan sikapku saat ini.”

    “Pasti! Biasanya kau menyebalkan, kan?”

    “Yaa, kali ini aku menyesal atas perbuatanku kepadamu. Aku ingin minta maaf sebesar-besarnya. Aku hanya ingin damai.” Rasa sesal itu memang menghantui Tom akhir-akhir ini.

    “Ini untukmu.” Tom tiba-tiba memberi kue lezat untuk Jerry. “Ini aku yang bikin, jadi aku harap kamu suka.”

    “Benar ini untukku, Tom?” Yang ditanya mengangguk. “Terima kasih banyak, Tom. Kamu benar-benar kucing yang baik.”

    Tikus bodoh. Kau kira, Tom benar-benar ingin minta maaf denganmu. Tidak tahu saja bahwa di kua itu terdapat racun yang mematikan.

    BalasHapus
  7. Nama: Willan (El)
    Judul: Salah Paham

    "Apanya kau?"

    "Gak ada, cuma mau kasih ini buatmu! Ikhlas, kok! Tidak ada racun-racun."

    "Bah, bagus kali tingkah kau itu. Sudah tau aku rencanamu."

    Jerry, seekor tikus kecil itu terus saja menolak pemberian puding mangga dari Tom. Seekor kucing yang merupakan musuh bebuyutannya itu.

    Bukan sekali dua kali dia mendapat perlakuan tiba-tiba seperti ini. Terakhir kali, Tom memberinya keju dengan percuma tapi akhirnya dia malah dibekap dan dibuang ke sebuah got. Hhh, untung saja masih bisa bertahan.

    "Terimalah Jer, kumohon! Capek aku mengaduk-ngaduk ini puding, bengkak lah tanganku ini."

    "Is, banyak tingkah kali mulutmu itu! Tak mampu lagi lah aku dengarnya." Jerry melipat tangannya di dada. Dia kesal sambil menatap Jerry tajam.

    "Aish, tingkahmu!" ucap Tom sambil mendelikkan matanya. Dia pergi sambil memegang puddingnya.

    "Ha! Pergi sana jauh-jauh. Sudah pusing aku dibuatnya sama kau! Tak mau lagi aku tercebur got-got bau itu! Ku balas, mati rasa kau!"

    "Haaa! Tunggu saja kau Jer!"

    Jerry tersenyum puas. Sementara Tom, dia sudah putus asa karena bujukannya tidak berhasil. Padahal, kali ini dia benar-benar ingin memberikan puding itu secara gratis. Dia sudah sadar dan ingin memperbaiki kesalahannya. Untuk itu, Dia ingin meminta maaf dengan cara memberinya puding. Namun entahlah, Jerry si tikus itu sangat tidak mempercayainya. Sebesar itukah kesalahannya?

    BalasHapus
  8. Nama: Kiki A
    Judul: Bukan Perangkap

    "Makanlah! Sebelum Nyonya datang," pinta sang kucing entah sudah ke berapa.

    Namun, lagi-lagi hanya gelengan cepat yang ia dapat. Si tikus bahkan memundurkan badannya setiap kue yang dibawa sang kucing didekatkan ke arahnya.

    "Percayalah padaku."

    "Tidak. Terakhir kali aku percaya padamu, aku nyaris menelan biskuit beracun."

    "Kali ini beda. Ini penyelamat, bukan pemusnah."

    "Lalu kenapa tidak kau makan saja kalau itu aman?"

    "Kita harus memakannya bersama."

    "Maksudmu kau ingin mengajakku mati bersama? Tidak, terima kasih. Lebih baik aku hidup sebagai hama daripada bunuh diri."

    "Mantra penyelamat hanya bisa bekerja jika kita memakannya bersama," ungkap sang kucing pada akhirnya. "Cobalah walau ini mungkin kesempatan terakhirmu di dunia."

    Meski ragu, si tikus tampaknya memercayai ucapan sang kucing. Ia mendekat dan mencomot satu jumputan dari kue tersebut. Sang kucing melakukan hal yang sama, lalu meletakkan sisa kuenya di sembarang tempat.

    Dalam hitungan ketiga, mereka kompak memasukkan cuwilan kue itu ke dalam mulut masing-masing. Kunyah sebentar kemudian telan.

    Tak terjadi apa-apa. Sang kucing mengernyit bingung. Pandangannya lantas jatuh kepada pipi si tikus yang sedikit tembam dari sebelumnya.

    "Kau tidak menelannya?" pekik sang kucing.

    Si tikus tak menjawab. Ia langsung memuntahkan seluruh gumpalan di mulutnya. Ah, ternyata tidak semudah itu ia memercayai hewan yang notabene adalah pemangsa di rantai makanannya.

    "Apa yang kau lakukan? Kita akan mati! Musim dingin ini kelewat parah, Nyonya tak punya bahan ramuan lain selain kita." Mata sang kucing memelotot getir. "Kita akan mendidih di dalam panci penyihir itu!"

    BalasHapus
  9. Nama : Michael
    Judul : Ulang Tahunku

    Aku keluar mengendap endap dari lubang di dinding. Pandanganku menjelajah sekitar
    mencari keberadaan Tom Si Kucing, jaga-jaga kalau dia datang dan langsung menerkamku.

    Rumah ini tampak kosong. Sepertinya si bodoh itu sedang tidur siang. Ini kesempatan yang bagus untuk mengambil keju di kulkas. Aku berjalan dengan santai, bersenandung ria menikmati suasana sepi rumah besar ini.

    Tak perlu waktu lama aku sudah berada di depan kulkas. Surga makanan kini sudah ada di depanku. Yang kulakukan sekarang hanyalah membuka benda besar ini dan mengambil keju yang sudah menunggu untuk kuambil.

    Aku melompat ke dalam kulkas, mengambil sebuah keju dan segera pergi dari sana. Ini terlalu mudah. Sebaiknya aku segera pergi sebelum kucing itu bangun dan menemukanku di sini.

    Sialnya firasatku benar. Saat keluar dari dapur aku berpapasan dengannya. Aku langsung berlari bersembunyi, tapi sepertinya dia tidak ada niatan untuk mengejar.

    Dia mengeluarkan sebuah kue dari kantong plastik yang dia bawa dan memberikannya kepadaku. Aku menunjuk diriku dan kue itu bergantian sambil bertanya dalam hati apakah kue itu untukku.

    Dia pun mengangguk. Seketika dia mengeluarkan kalender dan menunjukkan tanggal hari ini. Disitu tertanda bahwa hari ini adalah hari ulang tahunku. Aku segera memeluknya. Tak kusangka musuh bebuyutanku mengetahui hari ulang tahunku.

    BalasHapus

Yuk kita beropini mengenai isi post-nya~