Tuang Ekspresi Lewat Puisi

Breaking News

6/random/ticker-posts

Tuang Ekspresi Lewat Puisi

 



Puisi merupakan suatu karya sastra yang dikemas sarat akan makna. Dalam puisi biasanya terdapat lirik, bait, rima, dan irama.

 

Kita semua tentu saja tidak asing lagi 'kan dengan puisi? Apalagi dari zaman sekolah dasar, kita pasti disuguhi puisi-puisi mini yang ada di pelajaran Bahasa Indonesia yang bahkan sampai masuk dalam soal ujian. Pasti.

 

Kalau sudah bicara puisi, memang sudah pasti membicarakan akan keindahan kata dan makna mendalam 'kan? Itulah kenapa banyak yang bicara mengenai cinta lewat puisi.

 

Loh, puisi itu memang identik dengan cinta-cintaan aja, ya?

 

Enggak lah, Dear. Puisi bisa mencakup apa saja, kok. Kehidupan, kematian, pembunuhan, percintaan, persahabatan, dan masih banyak benda di alam semesta yang bisa dipuisikan. Termasuk kamu. Hehe.

 

Puisi harus pakai bahasa puitis, ya?

 

Enggak juga. Sebenarnya dalam pembuatan puisi sendiri tidak ada aturan khusus, karena puisi termasuk jenis sastra baru. Tidak terikat dengan aturan, bukan berarti tak beraturan 'kan?

 

Lain lagi kalau si Penulis memang memikirkan tipografi dalam pembuatan puisi tersebut.

 

Eh, apa lagi tuh tipografi?

 

Tipografi adalah format suatu puisi. Seperti penggunaan baris, batas tepi kanan-kiri, jenis huruf, bahkan spasi. Unsur ini akan berpengaruh pada pemaknaan puisi, yang biasanya hanya si penulis sendirilah yang paham akan makna tersebut.

 

Akan tetapi, yang kita bahas kali ini puisi mini saja ya. Untuk pembahasan lebih lanjut masalah tipografi bisa di lain waktu.

 

Apa sih enaknya berpuisi? Kita bisa menyalurkan emosi dan berbagai ekspresi hanya melalui barisan kata. Akan tetapi, kenapa bagi sebagian orang, berpuisi malah terkesan menyulitkan, ya? Sebenarnya ada nggak sih langkah untuk memudahkan kita merangkai kata hingga terbentuklah satu puisi? Jawabannya ADA!

Beberapa tips membuat puisi ala MinYa!

 

1. Tentukan tema yang merujuk pada makna yang akan kamu sampaikan

 

Kenapa kok gitu? Karena pembuatan puisi yang sarat akan makna akan mudah tersampaikan jika dari awal ada tujuannya. Betul?

 

Misalnya saja, Malam.

 

2. Pilih beberapa kata yang merujuk pada tema

 

Apa yang berhubungan dengan Malam?

 

- Sunyi

- Pekat

- Bulan

- Petang

- Bintang

 

3. Mulai kembangkan dan susun puisimu sendiri!

 

Suara Gadis Tengah Malam

[MinYa]

 

Malam terasa sunyi

Tak ada suara selain deru napasku sendiri

Bahkan bulan dan bintang pun berjauhan

Seakan menghardik datangnya petang

Berharap fajar kan segera datang

Agar gamang di hati tak kian meradang

 

 

Bagaimana? Cukup mudah 'kan berpuisi? Mau coba berpuisi untuk menuangkan ekspresi sekaligus meluapkan emosi dengan gayamu sendiri?

 

Contoh lain bisa banget lihat di instagram @aroma.kata_ (KLIK)


Di sana, MinYa akan lebih banyak meluapkan rasa dan kata-kata penuh makna. Hihi.

Selamat Berpuisi!


Pemateri: Nadykeyr


Posting Komentar

18 Komentar

  1. Nama: PutriInkari
    Judul: KSR

    Relawan ....
    Hanya untuk membuatku nyaman saat banjir melanda,
    kau rela basah mendirikan tenda.

    Begitu pula untuk membuatku tersenyum merona,
    kau rela bekerja keras lawan Corona.

    Relawan ....
    Meski kau bukan tim medis,
    yang membantu proses penyembuhan.
    Namun, kau bantu cegah penularan,
    dengan memberi edukasi hingga penyemprotan disinfektan.

    BalasHapus
  2. Nama: Eka Rostiawati
    Judul: Jatuh Cinta

    Rasa kagum bercampur risau di dada,
    Yang menggema di setiap waktu yang berkala,
    Aku tidaklah bercanda.

    Menghitung hari melewati waktu,
    Semakin lama ku semakin tergoda,
    Dengan rayuan-rayuan yang semakin membuatku jatuh cinta.

    Berharap hari esok aku masih menggenggamnya dengan penuh sukacita,
    Tanpa adanya setitik pun rayuan semata.

    BalasHapus
  3. Nama: Vicke
    Judul: Sendiri

    Sendiri
    Tanpa ada yang menemani
    Inilah diriku, manusia yang terbiasa sendiri
    Aku tak masalah jika begini
    Itu lebih baik ketimbang aku harus bertemu sekumpulan manusia yang membuatku sakit hati

    BalasHapus
  4. Nama: Cila
    Judul: Seperti Sebelumnya

    Tubuhku melemah,
    Seperti sebelumnya aku tetap kalah.
    Mataku memerah,
    Seperti sebelumnya aku tetap marah.
    Kakiku patah,
    Seperti sebelumnya aku tetap berdarah.

    Jika medan perang telah ku taklukan,
    Angin pun telah menyuarakan,
    Akan ku bawa seluruh nanah ini pada penghujung jalan.

    Nanahku sembuh.
    Tidak lagi kambuh.
    Di penghujung jalan itu bajingan ini kembali utuh.

    Ku kira aku benar-benar ada di surga dunia.
    Tidak, karena aku hanya kembali di pangkuan perempuan paruh baya.

    BalasHapus
  5. Nama : Siti Aisah
    Judul : Kesuksesan

    Rasa suka dan duka sudah pernah kurasai,
    Beribu-ribu percobaan membuat mental ini kuat,
    Suara riuhan terdengar di setiap ruangan.

    Air mata haru mengalir begitu saja tanpa perintah,
    Senyuman bahagia selalu terukir di wajah orang tuaku,
    Hari ini adalah hari dimana yang selalu kuimpikan.

    Berharap ini bukanlah mimpi masa kecil,
    Sambutan akan harapan, keinginan dan rangkaian puji syukur telah aku sampaikan,
    Riuhan tepuk tangan membuat jantungku berdebar keras.

    Terimakasih ayah ibu
    Terimakasih diriku.

    Berkat engkau dan doa ayah dan ibuku semua ini takkan terjadi,
    Dan terimaksih untuk diriku yang sudah mencoba, berdoa dan terus melangkah untuk masa depan dan keluarga.

    Jangan pernah lelah untuk meraihnya,
    Kebahagianan akan datang di akhir setelah perjuangan keras.

    BalasHapus
  6. Nama: Michael
    Judul : Lelah

    Tiada lagi aku mau begini
    Menjalani beratnya takdir dunia
    Tak kuat nafasku lagi
    Menghirup beratnya udara pengekang
    Tak akan lagi aku disini
    Meninggalkan semua adalah jalan

    BalasHapus
  7. Nama: Gita
    Judul: LDR (Long Distance Religion)

    Kita hanya manusia yang terus menerka-nerka apa selanjutnya
    Terus menentang aturan Sang Hyang Widhi demi rasa yang kita namakan cinta

    Sungguh sukacita dalam bercinta alangkah sedap bahkan untuk dilewatkan dalam sekejap
    Buainya yang membawa ku sampai langit ke tujuh tak mungkin ku lintasi begitu saja

    Tapi balik lagi, kita terlalu berbeda
    Tentang aku yang memuja Dewa dalam Pura juga kamu yang bedoa dalam Gereja

    Ini bukan perkara jarak antar kota, negara atau benua
    Nyatanya jarak yang kita punya lebih jauh dari yang kita kira,
    karena ini tentang penciptanya bukan umatnya

    BalasHapus
  8. Nama: Danial
    Judul: Menekuk pujangga


    Seperti ilalang pagi menepuk peri angin
    Omong tak omong dirinya melunglai tersenyum
    Senang tak senang hatinya gundah gulana
    Ucap atau tak ucap? Pikirnya

    Terhantar ucap hampir terdengar
    Hanya hampir yang tak bertuan
    Rupanya peri angin yang membawanya
    Tak cukup beribu kaul wicaranya

    Jagat buana para bulan membisikkan
    Dia bukan yang terbaik katanya padanya
    Meragu tentu menyentak langkahnya
    Apa rumput bergoyang jawabannya?

    Tak usah meneguk secangkir kopi
    Pikirkan saja bagaimana menjauhinya tanpa pandang

    BalasHapus
  9. Nama: Willan (El)
    Judul: Seperti Debu Di atas Lantai

    Seperti debu di atas lantai
    Membawa deru yang angkuh
    Mengangkut luka yang buruk

    Seperti debu di atas lantai
    Menyingkap emosi yang kukuh
    Menarik rasa yang terkantuk

    Seperti debu di atas lantai
    Mendorong raga yang rapuh
    Merasakan hawa yang suntuk


    Seperti debu di atas lantai
    Menyungging senyum yang tak terbentuk
    Menebar jiwa yang terpuruk

    Seperti debu di atas lantai
    Tidak ada helaan selain kecewa
    Tidak ada kebahagiaan selain terluka

    BalasHapus
  10. Mau kenal ini link ku https://asanugis01.blogspot.com

    BalasHapus

Yuk kita beropini mengenai isi post-nya~