Membuat Back Story dari Sebuah Video

Breaking News

6/random/ticker-posts

Membuat Back Story dari Sebuah Video




Halooo! Selamat datang di Kelas Kreativitas tiap hari Kamis bersama Circle Pedia!

Sudah siap untuk menjelajah imajinasi? 

VIDEO PANDUAN




Nah, kamu bisa mulai membuat back story sesuai imajinasi kamu setelah menonton video di atas. 

Ketentuan karya:
  • Jumlah kata maksimal 500 kata.
  • Genre bebas.
  • Sertakan nama penulis dan judul.

Contoh: 


Melted Andromeda
Karangan: Ayya


Peperangan antara benda langit tampak telah usai. Suhu berubah menjadi panas dan akan semakin panas tiap detiknya. Semuanya meleleh, salah satunya adalah Galaksi Andromeda ini. 

Astronot, cita-citaku sedari kecil. Meski tak pernah menyangka hal ini akan terjadi, tetapi aku tak keberatan jika harus mati di sini. Lebih baik mati saat mencoba hal yang sangat ingin kita lakukan, daripada mati dengan perasaan penasaran.

Suara tangisan Jupiter yang indah membuatku menghadapi kematian ini dengan tenang.

.
.
.

Gimana, nih? Mudah, bukan? Silakan kamu mulai berkarya di kolom komentar ya. Selamat berimajinasi, Dreamers!


Pemateri: Ayya

Posting Komentar

6 Komentar

  1. Nama: Gita
    Judul: Mimpi Gila Sebelum Beranjak Dewasa

    Cakrawala dihiasi kejora yang berkilap indah manjakan mata, dulu mimpiku ketika masih kanak-kanak adalah menjadi orang pertama yang menjelajahi galaksi, sebab jika Neil Amstrong menginjakkan kaki di bulan, maka aku ingin dicatat dalam sejarah sebagai manusia pertama yang berhasil mengeksplorasi jagad raya.

    Sungguh untuk mengingatnya kembali aku akan langsung terkikik geli, apalagi saat aku bermimpi mengambang di antara gugusan bintang dengan pakaian EMU atau bahkan dengan Unicorn yang sering kulihat dalam kartun di TV, ya aku memang sehalu itu aku dulu.

    Namun sekarang, ketika sudah menapaki remaja, berangsur aku tersadar, ditambah tamparan realita kehidupan yang membangunkanku bahwa bermimpi setinggi Gunung Everest sekali pun kalau ekonomi tidak memadai juga tidak didukung orang tua, kamu hanya bisa memendamnya dalam diam, sama sepertiku.

    BalasHapus
  2. Judul: Tugas Terakhir
    Karangan: Eka R

    Tidak terduga. Panas yang ditimbulkan dari benda langit satu, bisa berpengaruh pada benda langit lainnya. Satu persatu benda langit itu meleleh dan membuatku panik.

    Semakin lama, semakin banyak pula lelehan tersebut sampai mampu menenggelamkan diriku. Seperti sedang berenang, tetapi aku tahu kalau ini akan menjadi akhir dari tugasku.

    Pasrah. Hanya itu yang bisa aku lakukan. Tenggelam oleh lelehan benda langit, lengkap dengan pakaian kebanggaan yang selama ini menjadi cita-citaku.

    BalasHapus
  3. Nama: Vicke
    Judul: Galaksi

    Di sinilah aku sekarang. Berada di hadapan laptop sembari menyantap kentang goreng kesukaanku. Seperti biasa, aku menonton video tentang galaksi yang ada di Youtube. Aku selalu menyukai foto dan video galaksi, karena di mataku galaksi selalu cantik. Tidak lupa juga aku menjadikan foto galaksi sebagai cover sorotan Instagram Stories agar terlihat estetik. Terkadang aku suka berandai-andai menjadi astronot supaya aku bisa menjelajahi galaksi secara langsung.

    BalasHapus
  4. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  5. Nama : Michael
    Judul : Melebihi Mimpi

    Pandanganku perlahan mulai terlihat jelas, namun tidak untuk akalku. Aku terkejut saat aku mendapati diriku tengah berenang diantara galaksi dan sekumpulan bintang bintang. Aku tak percaya ini. Ingin rasanya aku mencubit diriku namun tak bisa. Baju astronot ini menghalangiku. Sebagai gantinya aku menggigit lidah. Untuk sesaat aku mempercayai ini karena lidahku terasa sakit.
    Aku kehilangan kata-kata. Entah bagaimana aku bisa sampai di sini, atau lebih tepatnya mengapa aku bisa sebesar ini? Aku tidak tau. Yang jelas sepertinya ini suatu keajaiban.
    Aku memalingkan mataku ke sana kemari, hingga aku temukan bumi tepatku dulu tinggal. Bentuknya kecil sekali, tak sebanding dengan diriku yang super besar ini. Tak terbayangkan di pikiranku bisa menjadi seperti ini, rasanya melebihi sebuah mimpi.


    BalasHapus
  6. Jika Kita Tak Lagi Bisa Tenggelam
    karangan: K. A.

    Seringan kapas, mengambang bagai awan walau nyatanya aku dikelilingi cairan pancarona. Kini merah tak lagi bermakna marah, biru tak lagi berselimut pilu, kuning pun malah terasa makin asing. Aku terombang-ambing dalam perasaan tak bertuan. Milik siapa? Entah.

    Kuhentikan tubuh ini agar tidak mengikuti arus riak dan memilih tenggelam diliputi rasa penasaran. Namun, ketika garis mataku terbelah memandang tempat tujuan, lagi-lagi aku hanya terapung pasrah. Kucoba mengukuhkan tubuhku kembali, bersiap tenggelam. Gagal lagi.

    Kejemuan ini membuatku menjatuhkan pandang ke arah lain. Sebuah lubang besar yang jauh dari jangkauanku, tetapi masih dapat kulihat putaran kejadian bak kaset usang di sana. Ayah menghadap tepat kemari, mengatakan sesuatu yang tak dapat menembus kesunyian di sini. Rautnya murka, lalu tampak sebuah tangan dari tepi kanan lubang itu mengangkat vas bunga krisan dan melemparnya ke arah Ayah.

    Ah, aku paham. Diriku tengah hanyut dalam kebimbangan Ibu untuk berpisah dengan Ayah.

    BalasHapus

Yuk kita beropini mengenai isi post-nya~