Toxic (Part 4)

Breaking News

6/random/ticker-posts

Toxic (Part 4)

 




    Aku tidak suka suasana seperti ini. Menghapa dari sekian banyak lelaki di sekolah ini harus dia yang menabrakku? Aku merasa tidak nyaman, belum lagi tatapan menyebalkannya yang membuatku ingin meninju wajahnya.

 

“Caca.”

 

 Dia memanggilku dengan nada sok polosnya. Aku hanya menatapnya.

Aku risi dengannya. Michael, satu-satunya cowok yang pernah singgah di hatiku. Ya, aku baru berpacaran sekali dalam seumur hidup. Aku menyesal telah menjadikan Michael sebagai kekasihku pada saat itu. Dia laki-laki yang berbeda jauh dari tipeku. Kadang, sifatnya masih seperti anak kecil. Itu yang membuatku tidak nyaman dengannya.

 

“Itu minum buat siapa?”

 

 Seketika aku melihat botol air mineral yang masih kupegang. Airnya sudah tak sedingin tadi, tetapi aku yakin, sensasi air ini pasti masih sejuk jika masuk ke krongkongan Michael.

 

“Buat lo aja, nih.” Beruntung, dia menerima air mineral dariku. 

 

“Eh, Ca....”

 

“Sorry, gue buru-buru, bye.”

 

 Aku malas jika harus berbicara dengannya. Topik yang selalu ia bahas sama sekali tidak membuatku tertarik. Ia selalu saja membahas anime dan yang bahas adalah anime yang episodenya sangat panjang, salah satunya adalah serial One Piece. Membosankan.

 

 Sesampai di kelas, aku langsung mendudukan pantatku di bangku. Aku tahu, Cindy, Cia, dan Chika sedang menatapku bingung. Mungkin, karena raut wajahku yang tidak bersahabat ini.

 

“Ada apa, Ca? Muka lo kok ditekuk gitu?”

 

 Aku hanya menatap Cindy sebentar, lalu kembali menatap mejanya. Aku bingung harus menjawab apa? Apa iya aku harus jujur? Ah, taki aku tidak ingin ada keributan lagi di antara kami—terutama di antara Cindy dan Cherly.

 

“Ca, ada masalah apa, sih?”

 

“Iya, kalo ada masalah cerita atuh, Ca.”

 

 Cia dan Chika pun angkat bicara. Ah, sudahlah, aku jujur saja kepada mereka. Aku ceritakan ke mereka apa yang terjadi tadi di lapangan basket. Aku tidak mengada-ada cerita. Aku cerita berdasarkan apa yang aku lihat tadi. 

 

 Raut wajah Cia dan Chika terkejut setelah aku menceritakan hal itu. Berbeda dengan Cindy, wajahnya menjadi merah. Aku tahu, Cindy pasti sangat marah saat tahu apa yang barusan aku ceritakan ke dia. Hah, aku harap kali ini Cindy tidak terlewat batas seperti kemarin. Aku ingin Cindy, Cia, dan Chika tutup mulut soal ini. Aku tidak ingin Cindy merencanakan sesuatu yang tidak-tidak agar Cherly kapok. Ini masalahku dengan Cherly. Aku bisa memperbaiki ini sendiri ... mungkin.

 

•••

 

 Seminggu berlalu. Semua berjalan normal seperti biasa. Beruntung Cindy, Cia, dan Chika masih tutup mulut soal masalahku dengan Cherly. Akhir-akhir ini aku juga tidak melihat Cherly dan Raka bersama seperti saat itu. Yah, semoga saja mereka tidak benar-benar seperti yang apa kupikirkan. Aku tahu Raka memang baik kepada siapapun. Tetapi, tidak menutup kemungkinan bahwa mereka bisa ... berduaan tanpa sepengetahuanku.

 

“Pagi, Caca.”

 

 Suara Cherly yang menyapaku nyaring sekali di telingaku. Raka yang memboncengnya sempat tersenyum padaku sebagai sapaan. Apa? Tunggu, Cherly berangkat sekolah bersama ... Raka? Tidak. Tidak mungkin. Mengapa bisa? Agghh!

 

 Rasa benciku terhadap Cherly semakin bertambah. Tetapi, entah mengapa aku tidak bisa membenci Cherly. Dia temanku. Dia sahabatku. Tetapi mengapa bisa ia seperti itu padaku? 

 

Mataku terasa panas. Pandanganku terhalangi oleh air mata yang menggenang. Napasku menggebu kencang. Ini sesak sekali. Aku tak tahu harus bersikap seperti apa. 


 BERSAMBUNG


Pengarang: Ziki Ramadhan


Posting Komentar

0 Komentar