Ceritaku dengan Glaukoma

Breaking News

6/random/ticker-posts

Ceritaku dengan Glaukoma



Halo, teman-teman semua! Kembali lagi sama aku, Nisa, di artikel kali ini dalam laman website resmi Circle Pedia.

Jadi, kali ini aku mau membagikan sesuatu yang lain nih dari biasanya. Apa tuh? Stay tune and keep reading, yesss!

Seperti yang kita tahu, kalau mata ialah jendela dunia. Mata yang terang serta sehat, membawa sumbangan rasa bahagia pada kehidupan ini hampir sebagian loh! Kenapa? Karena rata-rata indahnya dunia ini hanya bisa dinikmati oleh mata kita ini yang diberikan oleh Tuhan. Maka dari itu, wajib dijaga dengan baik dan digunakan dengan bijak ya.

Kalau kamu merasakan ada hal aneh yang terjadi pada diri kamu, terutama matamu segeralah periksakan ke dokter. Serahkan pada ahlinya supaya hal-hal yang dikhawatirkan tidak terjadi, atau paling tidak, hal-hal bahaya bisa terdeteksi sejak dini sehingga mendapatkan penanganan dengan cepat dan tepat.

Seperti kisahku ini....

Jadi, sejak empat tahun lalu tepatnya saat baru lulus sekolah dulu, aku sudah cukup sering merasakan gangguan penglihatan pada mataku. Seperti pandangan yang mulai kabur juga berbayang hingga berujung dengan peningnya kepala sebab gangguan penglihatan tersebut.

Awalnya aku mengira ini adalah rabun jauh semata, seperti orang pada umumnya yang mungkin juga mengalami rabun jauh atau rabun dekat, yang kelak akan memakai kaca mata saja. Ku pikir aku juga begitu, nyatanya tidak sesepele itu.

Pemeriksaan minus pada mata pertama kali kulakukan karena iseng-iseng saat nemenin mamahku pergi buat kaca mata ke optik langganan keluarga. Dan hasilnya adalah seperti perkiraanku saja. Minus mataku masih ringan, sekitar 0.75 untuk mata kiri dan 1.5 untuk mata kanan.

Nah, di sini aku masih menganggap enteng segala hal. Dari hasil minus mata yang masih ringan (menurutku), aku memutuskan menunda membuat kaca mata. Sayangnya penundaan itu tidak kusadari telah memakan waktu cukup lama, sekitar hampir empat tahun, dan voila! Kemampuan mataku memandang hal jauh semakin berkurang, semakin berbayang bahkan untuk melihat orang atau tulisan reklame di seberang jalan saja mencipitkan mata pun tidaklah cukup. Mataku sudah parah sepertinya.

(Sungguh teman-teman, hal yang kulakukan di atas itu tidaklah baik dan jangan ditiru!)

Bukan cuma itu, tiga bulan terakhir mataku sering merasa sakit seperti ditekan oleh sesuatu. Menyebabkan pening ke kepala hingga ke belakang kepala.

Entah karena batas ambang rasa sakit pada diriku ini cukup tinggi, makanya bagiku sakit pada mataku saat itu tidaklah mengganggu keseharian pada aktivitasku. Jadi, sampai saat itu aku masih mengabaikannya dan tidak juga memutuskan untuk pergi ke dokter.

Ah, paling cuma sakit karena kebanyakan main handphone, pikirku.

Dengan kekuatan sok pintarku ini, ku kurangilah intensitas menatap layar kotak pintar itu. Mulai pengurangan dalam kurun waktu jam, hingga satu hari penuh pernah ku lakukan selama sebulan dan ternyata hasilnya membuatku tercengang.

MATAKU TIDAK MEMBAIK JUGA!

Mataku malah makin rajin sakitnya dan sering berair tanpa sebab. Berair yang banjir mirip orang nangis, dan itu sampai mataku sembab. Urat-urat di bola mataku pun makin hari makin tercetak jelas dan menambah banyak. Melihat sesuatu yang terang, mata seperti tertusuk sesuatu dan ditekan hingga kepalaku sakit. Kadang kali mataku tiba-tiba seperti melihat kabut padahal cuaca dan tempatku tinggal bukanlah tempat yang mendukung kabut untuk ada.

Maka dengan segala pengalaman tadi, rasa khawatir pun muncul sekaligus banyak layaknya air bah yang tumpah memenuhi isi hatiku juga kepalaku selama beberapa hari.

Hatiku mendadak yakin ada sesuatu yang lebih dari ketimbang minus mata biasa. Ada hal yang tidak benar dengan netraku ini. Maka, setelah seribu purnama berlalu, akhirnya Allah memberkahiku dengan hidayah untuk segera melakukan pemeriksaan ke dokter.

Dan, di sinilah semua dimulai.

Sebuah kabar yang kuanggap adalah mimpi buruk yang bahkan tidak pernah kupikirkan atau minimal terlintas barang sekejap saja di benakku.

Diagnosis dokter mata di salah satu rumah sakit khusus mata di Medan yang kudatangi mengatakan, bahwa aku mengidap glaukoma.

Apa itu glaukoma?

Menurut beberapa jurnal kesehatan yang beredar di internet, dan dengan menukil beberapa penjelasan singkat dari dokter, kudapati glaukoma adalah kerusakan saraf mata akibat meningkatnya tekanan pada bola mata. Meningkatnya tekanan bola mata ini terjadi akibat gangguan pada sistem aliran cairan mata. Seseorang yang menderita kondisi ini dapat merasakan gejala berupa gangguan penglihatan, nyeri pada mata, hingga sakit kepala.

Pada dasarnya, mata memiliki sistem aliran cairan mata (aqueous humour) ke dalam pembuluh darah. Aqueous humour itu sendiri adalah cairan alami yang berfungsi menjaga bentuk mata, memasok nutrisi, dan membersihkan kotoran pada mata. Saat terjadi gangguan pada sistem aliran cairan ini akan menyebabkan penumpukan cairan aqueous humour dan meningkatkan tekanan pada bola mata atau bahasa medisnya hipertensi okular. Meningkatnya tekanan pada bola mata kemudian dapat merusak saraf optik.

Dan inilah yang sedang kualami. Aku bahkan tidak pernah menduga penyakit pada mata ini, penyakit yang merupakan penyebab kebutaan nomor dua di Indonesia akan mengenai diriku.

Padahal, setahuku, keluargaku tidak ada yang terkena glaukoma, aku tidak pernah mengalami cedera pada mata yang mengantarkan diriku pada meja operasi. Tidak juga ketergantungan pada obat tetes mata yang dijual bebas sehingga memakainya dalam jangka panjang. Bahkan saat mataku kering saja obat tetes jarang sekali ku pakai kalau tidak benar-benar sebutuh itu.

Akan tetapi, ketimbang berkecil hati dengan memikirkan segala macam hal buruk yang akan terjadi, aku memilih untuk berubah supaya lebih peka dengan kondisi diri sendiri, serta bersikap optimis menjalani kontrol seumur hidup supaya glaukoma ini tidak semakin parah.

Iya, glaukoma tidak bisa disembuhkan, bahkan pengobatan dengan laser, obat tetes mata, dan tindakan bedah hanya bisa menghentikan pemburukan. Kerusakan yang telah terjadi pada saraf optik tidak bisa di sembuhkan.

Oh iya, sekedar info, pengobatan yang diberikan dokter padaku ialah obat tetes mata guna mengurangi tekanan pada mata. Salah satu dari dua obat tetes yang diberikan itu rasanya ternyata sedikit membuat mata tidak nyaman. Sensasi perih yang sedikit menyengat akan terasa saat obat itu diteteskan.

Aku juga diresepkan kaca mata yang kelak akan kupakai, supaya tidak memperberat kinerja mataku.

Yah, tidak apa-apa. Sebuah perjuangan supaya tidak tambah buruk.

Untuk teman-teman semua, dari ceritaku itu semoga kalian mengambil pelajarannya ya, apa pun itu, saat merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan diri sendiri lebih baik periksakan saja. Tidak baik menunda-nunda sesuatu. Terlebih ini mengenai kesehatan diri sendiri. Karena, kalau bukan diri sendiri yang aware dan care, siapa lagi?

Sekian, untuk kali ini.

Bahagialah, dan sehat selalu! Doakan aku juga ya, supaya kondisi mataku tidak memburuk.


Penulis: Hanisa.

 

 

 

Posting Komentar

0 Komentar