Verdronken



Aku terduduk di teras sambil memandangi guyuran hujan yang jatuh ke bumi. Sesekali aku beranjak masuk untuk mengecek keadaan ibuku. Aku harap, ibu sudah terlelap. Aku ingin sekali main di bawah guyuran hujan, tapi aku takut dimarahi ibu. Dengan perlahan aku menghampirinya, dan benar saja ibuku sudah terlelap! 

Aku pun pergi ke kamar untuk mengambil selimut, lalu aku pakaikan selimut itu pada ibu. Aku juga tidak lupa untuk mengecup keningnya. 

"Ibu ... Anne pamit main dulu,  ya, tidak akan lama kok, Bu," bisikku pelan. 

Dengan perasaan riang aku keluar rumah dan langsung menyerbu halaman untuk bermain dengan hujan. Aku menari-nari sambil sesekali mencoba berenang di rerumputan. Namun, rasanya ada yang kurang. Meskipun senang, tapi aku tetap merasa kesepian—selalu begini. 

Aku menengadah menatap awan mendung di atas sana. Matahari pun sepertinya tidak mau muncul untuk menemaniku hujan-hujanan. 

"Huh ... menyebalkan! Kenapa, sih, mereka tidak mau berteman denganku?" ucapku berceloteh. 

"Mungkin, karena kamu bukan pribumi?" ucap seseorang di belakangku. 

Aku terkejut saat mendengar jawaban itu. Perasaan tadi aku masih sendirian, kenapa tiba-tiba ada yang menyahuti celotehanku?! 

Mataku membeliak saat melihatnya. Aku pun mulai mengamatinya, dia ternyata lebih tinggi dariku. Kulitnya putih, rambutnya pirang. Sepertinya dia juga bukan bangsa pribumi. Aku juga merasa dia seumuran denganku. 

"Kau siapa?" tanyaku galak. 

Lelaki itu terkekeh-kekeh, lalu ia mulai duduk di sebelahku sambil terus menengadah. Membiarkan tetesan hujan membasahi wajah tampannya itu. 

"Halo, namaku Thomas. Panggil saja aku Tom," ujarnya sambil tersenyum ramah. 

Aku pun ikut membalas senyumannya.

"Aku Annelise, panggil saja aku Anne."

Tom mengangguk paham. 

"Oh iya, asal kau tahu, aku ini lebih tua darimu, Anne. Umurku sudah sepuluh tahun," ujarnya lagi. 

Lagi-lagi aku terkejut. Kenapa dia bisa tahu kalau tadi aku sempat berpikir bahwa dia seumuran denganku? Apa jangan-jangan dia bisa membaca pikiran?

Aku masih menatapnya tak percaya. Masa, sih, dia lebih tua 2 tahun dariku? 

"Sudahlah, lupakan saja. Anne, mau tidak main bersamaku?" tanyanya. 

Aku mengangguk setuju. Sudah lama, aku menginginkan sosok teman. Aku rasa, kita akan sedikit cocok. Mungkin, karena kami sama-sama bukan bangsa pribumi? 

Tom mulai beranjak dari duduknya dan mulai berjalan di depanku. Aku bingung, sebenarnya dia mau main di mana? 

"Tom, memangnya kita mau main di mana?" tanyaku. 

Tom tersenyum lalu mulai menarik tanganku dengan lembut. "Ikuti aku saja. Aku yakin, kamu pasti akan senang Anne."

"Hmm ... baiklah."

Ternyata, Tom membawaku ke sebuah danau di sekitar taman. Sudah lama aku tidak datang kemari. Padahal, dulu aku sering sekali main di sini sambil memetik beberapa bunga mawar. 

"Ah, iya, Tom, aku ingin bertanya."

"Tanya saja," ucap Tom. 

Aku menatap Tom dengan penasaran. 

"Memangnya kenapa jika aku bukan bangsa pribumi?" tanyaku. 

Tom memandangku sejenak, lalu tatapannya beralih ke arah danau. "Kau tidak akan bisa berteman dengan mereka. Sebab, bangsa kita telah menjajah bangsa mereka."

Aku mengernyit heran. "Tapikan aku tidak ada hubungannya dengan itu. Keluargaku datang ke sini hanya untuk berdagang saja."

"Tetap saja Anne, darahmu takkan bisa membohongi mereka. Pandangan mereka terhadap kita masih belum berubah. Mungkin, hanya segelintir orang yang mau menerima kita di sini."

Aku memandangnya kesal. "Kau ini sudah seperti orang dewasa saja bahasanya! Aku kan tidak mengerti, Tom."

"Yasudahlah, hmm ... bagaimana kalau kita berenang di sana?" ajak Tom. 

Aku menatap danau itu ragu. "Itu pasti dalam, Tom. Aku takut tenggelam. Lagi pula, aku memakai gaun," ujarku. 

"Tidak apa. Tenang saja Anne, ada aku," ucap Tom dengan senyuman khasnya. 

Akhirnya kami berdua pun berenang di danau. Rasanya benar-benar menyenangkan. Aku menatap Tom yang sudah mulai menyelam. Aku masih menunggunya naik ke permukaan. Tapi kenapa lama sekali? Kenapa Tom tidak naik ke permukaan juga?! 

Aku mulai berenang ke tengah-tengah. Mencoba mencari keberadaan Tom. 

"TOM! KAMU DI MANA?!" teriakku panik bercampur khawatir saat tak kunjung menemukannya. 

Rasanya aku ingin menangis saja. "Tom! Jangan bercanda, aku takut ..., " lirihku pelan. 

Saat aku mencoba untuk berenang lagi, riba-tiba ada sebuah tangan yang menarik kakiku. Tangan itu terus menarikku ke dalam danau. Aku terus memberontak, tapi tidak bisa! 

Aku mencoba berenang menuju ke permukaan, tapi dia terus menggenggam kakiku. Genggamannya sangat kuat, aku tidak bisa melawan lagi. Dadaku sakit, aku tidak bisa  bernapas di sini. Semakin lama, semakin banyak tangan yang menyentuh badanku. Kali ini ada tangan yang menyekik leherku. 

Aku semakin memberontak, tapi tenagaku kalah kuat dengan tenaga mereka. Dadaku benar-benar terasa sesak. Terlalu banyak air yang aku minum, aku benar-benar tidak bisa bernapas! Siapa pun tolong aku! Aku tidak ingin tenggelam! 

Aku merasa kepalaku sudah menyembul ke permukaan. Samar-samar, aku juga melihat Thomas yang berada di depanku. Dia tidak berani menatapku. 

"Maafkan aku, Anne. Aku terpaksa membawamu, karena hanya ini jalan satu-satunya agar jasadku bisa ditemukan."

Aku mulai menutup mataku dan tersenyum samar. "Ti—dak ... apa Tom. Aku mengerti, a—ku har—ap ki—ta masih bi—sa berma—in," ucapku dengan terbata-bata disela embusan napas terakhirku. 

"Iya, aku berjanji kita pasti masih bisa main bersama. Meskipun, di alam yang berbeda. Sekali lagi maafkan aku Anne...."

TAMAT


Penulis: Rahmalia Khoirunnisa

Artworker: Marsyasp



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yuk kita beropini mengenai isi post-nya~

Pages