Perspektif Chap 1: Jadi Diri Sendiri

Breaking News

6/random/ticker-posts

Perspektif Chap 1: Jadi Diri Sendiri

 

 

Chapter 1: Jadi Diri Sendiri


Hai guys… salam kenal dari saya Dalen. Kali ini saya ingin berbagi perspektif mengenai pendapat banyak orang tentang jadi diri sendiri, apakah ada masalah dari kalimat tersebut? Saya memiliki sebuah cerita dari beberapa pengalaman saya dan teman-teman terdekat saya.


Masalah yang sering kali terjadi dalam memaknai kata motivasi terkadang membawa kita keluar dari masalah atau semakin masuk lebih dalam, bagaimana hal itu bisa terjadi? Seringkali banyak yang menggambarkan bahwa saya yang pemarah, baperan, atau manja adalah karakter bawaan saya dan itulah saya, saat ada orang yang ingin berniat baik untuk menegur bahwa sudah banyak orang yang merasa kurang nyaman dan sering kali tersinggung dengan perilaku saya.


Karakter mulai terbangun sejak dari dalam kandungan yang terekam dalam alam bawah sadar sampai kita lahir dan terus tumbuh dengan dipengaruhi oleh lingkungan hidup, sampailah terbentuk karakter yang terkadang kita pertahankan, banggakan dan diagungkan oleh diri sendiri.


Sejujurnya itu memang menjadi warna dalam hidup, manusia memang unik dengan segala yang ada dalam diri sendiri, jika dibayangkan begitu membosankan jika kita hidup dengan orang yang berkarakter sama. Semua akan terasa mudah dan lurus saja. Tetapi permasalahan yang terjadi saat warna-warna dari karakter kita bertemu dan saling bertabrakan. Jika saya adalah pendengar dan teman saya adalah orang yang suka berbicara maka kami akan nyambung saat bersama. Tetapi jika saya pendengar dan teman saya pun sama, siapa yang akan kami dengarkan?


Masalah lain yang sering kali menjadi masalah adalah saya seorang pemarah, sering bergurau namun sangat menyukai kekuasaan bertemu dengan teman saya yang mudah tertawa, namun mudah tersinggung dan tidak menyukai kemegahan. Bagaimana jadinya? Kami bertemu akan merasa nyaman ketika saya bergurau dan dia menyukai candaan saya, tetapi saya menyukai kekuasaan dengan membuktikannya melalui segala kepunyaan saya untuk dipamerkan kepada teman, tetapi teman saya tidak menyukai kemegahan, jadi apa yang akan terjadi?


Ada dua kemungkinan yang bisa terjadi teman saya berusaha menerima saya yang suka pamer dan dia tetap menjadi pribadinya yang sederhana. Atau saya yang berusaha beradaptasi dengan kesederhanaan teman saya. Apakah itu merubah pribadi saya dan tidak lagi menjadi diri saya sendiri? Menurut perspektif saya hidup tidak selalu harus menurut diri sendiri, mungkin sering kali disebut egois, tetapi bukankah saat orang lain egois terhadap diri kita, itu sangat menjengkelkan? Saya tidak tau bagaimana yang lain tetapi saya sangat kesal saat bertemu orang yang demikian, semua melulu harus mengikuti keinginannya.


Warna-warni karakter tersebut akan nampak indah ketika kita mampu saling menghargai dan tidak saling menonjolkan, sering kali ini bertabrakan dengan kata motivasi lain "jangan berusaha untuk disukai banyak orang". Sekali lagi, salah penggunaan kata motivasi bisa menjerumuskan masuk ke dalam masalah yang lebih besar. Mudahnya kamu tidak sedang berusaha membahagiakan orang lain, tetapi berusaha membuat diri sendiri nyaman saat tidak ada perlawanan dengan kata hati. Pernahkah kamu merasa beradu dengan hati kecil saat bermasalah dengan teman, sahabat, atau bahkan keluarga karena sifat yang terlalu egois dan tidak memperhatikan situasi orang lain, atau pernahkah melihat temanmu berubah menjadi sangat pemarah saat bermasalah dengan seseorang, karena merasa muak menjadi orang yang berusaha menghargai tetapi tidak dihargai oleh orang lain. 


Bagaimana pendapatmu? Apakah perspektifku salah atau mungkin ada beberapa hal saja yang sependapat? Jika ingin berbagi perspektif sangat boleh di sini.


Penulis: Dalen

Posting Komentar

0 Komentar