Ketika Sebuah Mimpi Menjadi Kenyataan

Breaking News

6/random/ticker-posts

Ketika Sebuah Mimpi Menjadi Kenyataan



Jatuh cinta pada pandangan pertama. Jujur, awalnya aku sangat tidak percaya dengan kalimat tersebut. Tetapi, setelah aku merasakannya sendiri, barulah aku sedikit mulai percaya. Ingat, hanya sedikit. Karena sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Oke, aku akan mulai membagikan sedikit kisah diriku selama di SMA, di mana saat aku bertemu dengan orang yang malamnya aku mimpikan. Aneh? Baca saja dulu.

Bagi seorang remaja SMP yang akan masuk SMA itu bagaimana sih rasanya? Senang, tidak sabar, tidak bisa tidur. Ah! Pokoknya seperti itu yang aku rasakan dulu. Waktu di mana aku akan mengawali pagiku sebagai seorang anak berseragam putih abu-abu untuk pertama kalinya. Harus sopan kepada yang lebih tua, saling menghargai sesama, juga hormat kepada guru. Itu nasihat dari ibuku semalam. Nah, ngomong-ngomong tentang malam, aku jadi teringat dengan mimpi yang bagiku mungkin sangat aneh. Tidak tahu bagi kalian. Lebih parahnya lagi, seseorang yang kutemui di mimpi, malah benar-benar ada di dunia nyata. Di sekolahku! Kalian tidak percaya? Apalagi aku!

Aku bermimpi tentang seseorang di mana orang itu terlihat sangat akrab sekali dengan ayahku, dia memakai baju putih juga celana putih selutut. Tubuhnya tinggi, seperti lelaki pada umumnya. Namun, badannya sedikit berisi tetapi tidak berlebihan. Namun di mimpi itu, aku hanya sekilas melihat wajahnya sebelum lelaki itu menghilang karena aku terbangun akibat alarm yang menyala.

"Argh! Kenapa harus bunyi sekarang sih, lo?!" maki diriku sambil mematikan alarm yang sangat berisik itu.

Menguap, nyawa belum terkumpul semua, lalu berakhir dengan menjatuhkan diri lagi pada kasur yang sangat empuk. Itulah kebiasaanku, makanya ibu sangat rewel ketika membangunkan diriku.

"Nindi udah bangun?!" teriak ibu sambil mengetuk pintu kamarku dengan keras.

"Udah, Bu! Ini mau mandi," sahutku.

"Ya, sudah. Habis itu langsung berangkat ke sekolah."

Aku mendengus. Dasar ibu. Memangnya dia tega apa membiarkan anaknya pergi sekolah tanpa memberinya sarapan terlabih dahulu?

 =============


Aku datang sedikit tidak tepat waktu pagi ini, alias telat. Aku berangkat bersama teman SMP-ku yang kini juga bersekolah di SMA yang sama. Senang sekali rasanya, jadi tidak akan kesepian kalau setidaknya aku belum menemukan banyak teman hari ini. Setelah sampai, kami semua digiring untuk berbaris di lapangan dan akan mulai acara hari ini. Yaitu, Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah atau disingkat menjadi MPLS. Saat itu yang membimbing bukan guru, tetapi para anggota OSIS dan anak Paskibra. Namun, aku sangat terkejut ketika melihat lelaki tinggi dengan tubuh berisi, memakai baju putih dan celana putih khas anak Paskib yang berdiri tepat di depanku. Dia... Dia... Aku kenal dengan lelaki itu! Dia yang ada di mimpiku semalam. Kok bisa?!

Lelaki itu tersenyum dengan sangat manisnya di depan sana, memamerkan gingsulnya kepada semua murid baru yang secara tidak dia sadari sudah membuat perasaan orang repot! Salah satunya aku. Terlebih aku sudah melihatnya tadi malam. Ini, ini yang masih belum aku percaya. Kenapa bisa? Kenapa mimpiku menjadi kenyataan seperti ini? Apa tandanya ini semua? Pertanda apa ini? Argh! Siapa yang bisa menjelaskannya padaku?

"Dek, fokus! Perhatikan pembicara, jangan memperhatikan yang lain." 

Sial. Aku ketahuan. Tetapi tenang saja, itu bukan lelaki di mimpiku kok yang menegur, tapi anggota Paskibraka perempuan di samping dia.

"Maaf, Kak."

Sepertinya sudah, aku hanya ingin menceritakan itu saja. Sekaligus bertanya apa maksudnya itu semua? Apa salah satu di antara kalian juga ada yang pernah mengalami?

Segitu dulu, ya, nanti kapan-kapan aku akan menceritakannya lagi. Tentunya masih tentang si kakak paskibra yang mampir di mimpiku sekaligus menampakkan wajahnya secara nyata juga. Aku tidak tahu maksudnya apa. Sungguh!


BERSAMBUNG

 

Pengarang: Eka Rostiawati


Posting Komentar

0 Komentar