Tentang Sudut Pandang Cerita (Point of View/PoV)




Persiapkan diri kalian, Dreamers. Karena sekarang MinRa akan membawakan materi kelas di Senin hari yang pematerinya adalah MinRa sendiri! 

Materinya adalah tentang "sudut pandang" atau yang biasa disebut "PoV".

PoV atau Sudut Pandang.

Pernahkah kamu bertanya pada dirimu sendiri, siapa yang bisa menceritakan kisah ini dengan cara paling baik?

Atau kalian masih bertanya-tanya apa itu PoV dan ada berapa bagian PoV tersebut?

Singkatnya, PoV terdiri atas 3 jenis, di antaranya:

— PoV pertama, katakanlah sudut pandang "aku". Biasanya banyak digunakan di cerita-cerita yang tidak memiliki banyak tokoh dan konflik hanya berkisar pada satu tokoh saja, seperti dalam cerita-cerita romantis, misalnya.

— PoV ketiga, juga sering dipakai (terlebih oleh penulis pemula) dalam novel dengan menceritakan dia atau ia. PoV ini juga sering disebut PoV yang serba tahu.

— PoV kedua, PoV ini biasanya jarang digunakan karena tingkat kesulitannya ketika diterapkan pada tulisan panjang, selain itu dalam PoV kedua kamu sebagai penulis (dan lagi penulis baru) juga akan menemukan kesulitan saat mengembangkan karakternya. Biasanya PoV ini berciri khas kata kamu atau kau.
.
.
.
Contoh PoV kedua:

_________

Judul: Pilu
Penulis: MinRa

Hari itu kaubermimpi ingin menjadi bebas. Kenyataan mematahkan semangat, kauhanya terperangkap dalam khayal.

Malam itu guntur membuat kaukembali terjaga. Mata yang sontak terbuka diiringi air mata, sepertinya luka itu kembali menganga.

Kilatan petir seketika menyilaukan seisi kamar, melalui jendela yang biasa kaupakai untuk membunuh waktu. Tampak ruangan kamar yang terlihat berantakan bersama kauyang berada di atas ranjang.



Contoh PoV pertama:

Nama: MinAyy
Judul: Kalut 

Aku menatap lekat-lekat ukiran cantik namamu pada batu nisan hitam itu. Masih dapat terdengar jelas tawa lama yang telah hilang, hati ini berdenyut nyeri. Amat sakit, ketika serpihan-serpihan kenangan usang itu kembali bermunculan memenuhi isi kepala. 

Aku sudah cukup lelah melangkah sendirian, ditemani rasa bersalah yang selalu menghantui setiap saat. Untuk datang meminta maaf, aku tahu ini benar-benar terlambat. Salahku yang kala itu mendiamkanmu terlebih dahulu. Sama sekali tak pernah terpikirkan bahwa kita akan berakhir seperti ini. Bagaimana? Bagaimana aku bisa hidup dengan baik setelah hal tragis itu terjadi? Bahagia tanpamu sangat menakutkan.

Memang benar, perebut terhebat adalah maut.



Contoh PoV pertama:

Judul: Hantu di Sudut Pikirku
Nama: MinDy

Sejak hari itu, hati kecilku kembali meronta. Menyadari kakiku yang bahkan tak berani mengambil langkah, entah itu untuk mendekatimu atau bahkan berbalik arah. Di ujung rasa, sebenarnya aku pun ingin menanggalkannya, karena pada dasarnya aku sudah menyerah.

Penantian senjaku sudah berakhir. Kini aku mulai menyadari, jika mengharapkan kehadiranmu membuatku membuang waktu yang telah lama kuukir. Memikirkanmu membuatku menjadi seperti fakir cinta yang takut melangkah. Bayang-bayang namamu yang melambai di langit senja pun bersorak seolah menertawakanku yang diam terjeda. Ah, wajahmu mungkin tiada pernah kulupa. Begitu pula dengan senyum jail dan tawamu yang menggema. Sungguh, bagaimana bisa aku melupa jika nyatanya kau masih setia berdiri di depan mata?

Jika aku pada akhirnya menjadi bayang semu di hadapanmu, kau kira aku tak bisa menganggapmu begitu? Hanya saja aku perlu sedikit waktu. Untuk memastikan kau benar-benar hilang termakan waktu atau bahkan benar-benar menjadi hantu di sudut pikirku.



Contoh PoV ketiga:

Judul: Putus Asa
Penulis: MinSy

Nadine sudah tidak mampu memercayai siapa pun, termasuk kepada sahabatnya sendiri. Ini bukan tentang keegoisan diri, tapi tentang rasa kecewa.

Ia hanya tak memahami bagaimana algoritme di sekitarnya berjalan. Bagaimana bisa percaya menjadi rasa kecewa? 

Nadine manatap hamparan laut biru di bawahnya. Begitu tenang dan damai. Ia mencoba untuk menutup mata dan merasakan bagaimana rasanya menyatu dengan bisikan alam.

Sampai tahu-tahu saja, Nadine sudah hanyut bersama lautan biru itu. Dia tak akan kembali.

Ya, gadis itu memutuskan tak akan kembali ... selamanya.

----

Bagaimana? Seru bukan belajar tentang PoV bersama. Sampai jumpa di materi berikutnya!

Salam kreasi!

Penulis: Clara Penaabu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yuk kita beropini mengenai isi post-nya~

Pages