Menolak Percaya Cinta

Breaking News

6/random/ticker-posts

Menolak Percaya Cinta

 


Kenapa rasanya sangat sulit menerima cinta darinya?
 
Ada rasa tulus yang aku rasakan saat melihat matanya. Dia jauh lebih sempurna bila dibanding denganku. Aku merasa tidak pantas menerima cintanya.
 
Tahukah kamu? Tidak ada orang yang sempurna di dunia ini.

==========


“Kenapa sih, Ra? Lo selalu nolak niat serius gue untuk jadi pacar lo?” tanya Reno.

Suasana menjadi hening, yang tadinya Rara meronta untuk melepaskan genggaman tangan Reno, kini dia hanya dia membisu. Tidak tahu harus jawab apa.

Dia pun bingung sama perasaannya sendiri. Entah kenapa setiap kali Reno ada di sampingnya dia merasa nyaman. 

Diam-diam dia sudah mulai jatuh cinta pada Reno. Tetapi, dia malu untuk mengatakan hal yang sebenarnya. 

Rara terlalu biasa untuk seorang Reno yang dikagumi hampir satu sekolah ini, dia juga pintar dan baik. 

Sedangkan Rara, dia hanya orang yang dikenal di dalam kelasnya. Orang yang selalu diandalkan di kelas. Wajahnya tidak secantik orang yang pernah menjadi kekasih Reno. 

Rara juga heran, kenapa bisa Reno begitu gencar mengejarnya. Padahal dia sudah menolak dengan kasar agar Reno jera dengan kata-kata menyakiti hatinya. 

Mata Rara masih terkunci dengan mata indah milik Reno. Rara bisa melihat ketulusan di mata hatinya 

Rara segera menutup matanya, untuk meyakinkan dirinya mengatakan tidak. 

“Gue udah bilang berapa kali sih, Ren? Lo enggak pernah dengar atau gimana? Gue itu enggak suka sama lo. Maaf, lo harus cari orang lain. Jangan gue. Gue enggak pantas untuk lo.” Rara dengan cepat melepaskan tangannya pada genggaman Reno dan dengan cepat dia pergi dari situ. 

==========

 

“Lo dari mana, Ra?” tanya Sari saat melihat sahabatnya itu memasuki kelas. 

“Dari taman, biasa si Reno. Ganggu waktu gue aja,” ucap Rara kesal. 

“Kenapa enggak lo terima aja sih, Ra? Reno kurang apa lagi coba? Udah ganteng, baik, pintar lagi. Lo mau cari yang gimana sih?” Rara hanya memasang kesalnya dan duduk di bangku.

“Kalau hati ‘kan enggak bisa dipaksakan, Sar? Gue enggak suka sama dia. Itu masalahnya,” ujar Rara. Tentu saja itu bohong, entahlah. Rara tidak tahu, sampai kapan dia akan berbohong pada hatinya sendiri.

“Lo serius? Enggak suka orang seganteng Reno itu?” tanya Sari sekali lagi. 

“Cinta itu enggak mandang fisik. Gue juga sadar kalau Reno itu ganteng. Tapi ya kalau hati enggak ke sana, masa harus gue paksa. Udahlah, gue malas bahas masalah Reno,” jawab Rara. 

“Ya udah sih, Ra. Gue ‘kan sebagai sahabat lo Cuma mau yang terbaik untuk lo. Ya kalau lo memang enggak suka, ya udah deh. Gue enggak maksa.” 

========== 

 

“Kak, Bunda masuk ya?” Intan, Bundanya itu langsung masuk saat Reno sudah bilang iya. 

“Kenapa, Bun?” tanya Reno. 

“Enggak, Bunda Cuma mau bilang. Besok jadwalnya check up. Kakak jangan lupa, ya,” ucap sang Bunda. 

“Pulang sekolah ‘kan, Bun? Aku besok ada ulangan. Sayang kalau enggak ikutan.” 

“Mana bisa pulang sekolah, Kak. Kan biasanya pagi, dokter Ken banyak pasien kalau siang. Bisa ikut remedial nya kan, Kak? Gapapa ya. Kebetulan sekali, besok harinya sekolah,” jelas Intan. 

“Ya udah deh, Bun.” 

“Gitu dong, anak Bunda ‘kan pintar.” Intan mengelus lembut rambut anak sulungnya itu. 

Setelahnya Intan keluar, Reno melanjutkan kegiatannya belajarnya yang sempat tertunda. 

Semua orang di sekolah hanya memandang Reno adalah laki-laki yang paling dikagumi. Dari segi ilmu, ketampanan, dan murah senyum.

Kenyataannya dia tidak sesempurna itu. Iya, dia memang pintar, selalu baik pada semua orang, dan tentunya tampan. 

Tetapi, saat usianya menginjak enam tahun. Dokter mengatakan bahwa dia mempunyai jantung yang lemah. Dia harus mengomsumsi obat setiap harinya tanda boleh putus. Harus check up minimal dua minggu sekali.

Saat kecil pun dia sudah divonis, tidak akan bertahan sampai umurnya menginjak 17 tahun. Reno sangat terpukul saat itu. Dia merasa hidupnya kosong. 

Tetapi dengan keluarganya yang selalu mendukung dirinya, dia terus bangkit dari keterpurukan itu dan menjadikan Reno seperti sekarang. 

==========

 

Di kelas, Rara tengah asik menatap pintu terus. Dia heran sudah mau masuk, kenapa Reno tidak ada lewat dari depan kelasnya. Biasanya ‘kan dia selalu mampir sebentar ke kelasnya.

Apa dia sakit ya? Eh kenapa gue jadi mikirin itu anak, batin Rara. 

“Ra, lo kenapa sih? Dari tadi ngelihatin pintu terus?” tanya Sari heran. 

“Eh, enggak. Orang gue lagi mengkhayal aja,” ucap Rara. 

“Beneran?” tanya Sari. 

“Iya, Sar. Udah deh, jangan ganggu gue lagi khayal.” 

Sari hanya bisa heran melihat sahabatnya bertingkah aneh. Tidak biasanya dia mengkhayal sambil melihat ke arah pintu.

“Sar, gue ke toilet dulu, ya,” pamit Rara. 

Sari hanya mengangguk saja. Rara pun segera keluar dari kelas. Tujuannya saat ini adalah kelas Reno yang berada tepat di samping kelasnya. Dia hanya ingin memastikan. 

Saat tiba di kelas Reno, dia memanggil salah satu siswi untuk ditanya tentang Reno. Karena ternyata Reno tidak ada di kelas. 

“Reno belum masuk ya?” tanya Rara. 

“Dia sakit, mamanya sendiri tadi yang ngantar ke kelas.” 

“Oh, makasih ya.” Rara pun segera pergi dari kelas Reno menuju taman, tempat favoritnya. 

Ponsel yang berada di sakunya bergetar menandakan ada pesan masuk. Rara segera membaca pesan itu. 

. 

. 

+6289576883872 

Online 

Ra... 

Gue hari ini enggak masuk. Lo jangan cariin ya... 

 

Kepedean banget lo, bagus deh kalau lo enggak masuk. Enggak ada yang ganggu gue.

  

Gue sebenarnya enggak lagi sakit sih, Ra.

  

Tapi kata teman lo, nyokap lo datang ngantar surat. Berarti beneranlah. 

 

Lah, berarti tadi lo nyariin gue kan Ra??

 

Enggak. Terus maksud lo enggak sakit apa?

  

Enggak jadi Ra. Udah dulu ya, nama gue udah dipanggil nih.

. 

. 

Rara tidak lagi membalas pesan itu. Dia sudah terlanjut malu. Untung saja Reno tidak lagi membahas itu. 

Rara bingung dengan dirinya. Tidak sejalan hati dan ucapannya. Entahlah mungkin karena dia terlalu tidak percaya diri. 

Reno itu segalanya di sekolah dibanding dirinya. Hanya teman sekelas yang kenal dirinya. Hanya orang yang pernah dekat dengannya yang kenal dirinya.

Sedangkan Reno. Dia adalah anak kesayangan guru-guru di sekolah ini. Namanya sudah tidak ada asing lagi. Semua orang mengenal Reno. 

Kalau dia jadi pacarnya, bisa-bisa dia akan dimusuhi satu sekolah karena dia tidak akan pantas bersanding dengan Reno yang akan kesempurnaannya itu. 

Karena dia tidak tahu, bahwa Reno Angkasa Syaputra itu adalah istimewa.

 

TAMAT


Penulis: AprilYani

Artworker: PenaAbu

Posting Komentar

0 Komentar