Imperfect


Ada dua hal yang paling kubenci di dunia ini.

1. Aku benci ketidaksempurnaan;

2. Aku benci karena aku membenci ketidaksempurnaan.

Tentu saja aku punya alasan bagus untuk itu. Contohnya adalah hari ini ketika aku harus duduk di samping orang-orang ini. Seandainya aku tidak lupa untuk membawa earphone-ku, aku tidak harus mendengarkan apa yang mereka ucapkan.

"Kadang gue heran, apa, sih, salahnya punya tubuh kayak gini. Sekarang, punya badan kek gue itu kayaknya dosa besar." Aku mendengar wanita yang tubuhnya lumayan berisi—yang duduk tepat di sampingku—merutuk.

"Lu ngapain juga, geh, dengerin mereka?"

"Yeeey! Lo sih enak punya badan kek gitu. Coba gue; udah gendut, item, pendek, idup lagi."

"Masih mending. Tubuh lu sempurna. Coba liat orang-orang di luaran sana? Ada yang gak punya kaki, ada yang buta. Bersyukurlah."

"Susah emang kalo ngomong ama orang suci."

"Lu yang susah dikasih tahu, geh."

"Eh, Mel, ngomong-ngomong kalau gue diet, enaknya pake cara apa, ya?"

"Mana gua tahu, Sil. Gua nggak pernah ada niat buat diet. Lagian lu segini cukup, kok. Kalau lu niat buat ngecelin tubuh lu, nanti lu kekurangan gizi. Porsi tinggi lu sama berat badan lu tuh udah cukup."

"Cukup dari mana, Melly? Tinggi gue itu 150, dan berat badan gue itu 55. Harusnya, kan, 40."

"Haduh, beda 15 kg doang, Sil."

"15 kg yang ngancurin semuanya."

"Sebenernya, masalah lu tuh cuman satu, Sil. Lu terlalu dengerin apa kata orang. Mereka nggak penting, elah!"

"Lo gampang ngomong gitu karena lo nggak ada di posisi gue. Semua orang gampang aja ngomong nggak usah diambil hati, padahal mereka nggak tahu apa-apa."

Aku menghela napas lelah. Itulah kenapa aku membenci ketidaksempurnaan. Hal itu momok paling menakutkan bagi seorang wanita. Aku tidak menyalahkan dia yang merasa insecure pada dirinya sendiri, aku juga tidak menyalahkan mereka yang merasa harus sempurna. Semua orang ingin sempurna, termasuk wanita di sebelahku ini. Masalahnya, tingginya tingkat kesempurnaan seseorang ditentukan oleh diri mereka sendiri.

"Eh, soal diet, mending gue jaga makanan gue dari lemak atau gue itung kalori gue?"

"Itu apaan, lagi? Gua kagak paham."

"Lo nggak ngebantu sama sekali, njir. Kepingin nangis, gue."

"Gua kudu gimana, dong? Gua, kan, nggak paham begituan, Sil."

"Ah, udahlah! Males gue jelasinnya."

"Sil." Ada jeda sebentar sebelum perempuan bernama Melly—kalau aku tidak salah ingat—melanjutkan. "Kalau lu udah memenuhi standar lu, lu mau ngapain?"

"Ya gak ngapa-ngapain, sih. Tapi buat kepuasan gue aja."

"Asal lu tahu, ya, kalaupun lu udah memenuhi standar kecantikan orang-orang, mereka-mereka bakalan tetep ngomenin lu. Manusia itu bakalan ada aja yang diprotes dan itu pilihan lu buat dengerin atau nggak."

"Dan gue milih buat dengerin merek—"

"Which means, lu bego. Lu sadar gak, sih, lu tuh cuman bakalan nyakitin diri lo sendiri. Live your life-lah, Sil."

"Tapi gimana, Melly? Gimana?"

"Mulai dengan nggak dengerin mereka dan bangga dengan tubuh lu. You're beautiful with your own way. It's not easy, I know. Coba aja pelan-pelan."

"Gue nggak yakin. Lo ngomong gitu karena lo cantik, Mel."

"Yes, I'm beautiful, so are you. Bedanya, gua sadar gua cantik dan lu enggak."

"Anjir! Lo pede amat, Mel."

"Ya, haruslah! Kalau gua nggak pede, gua nggak akan jadi gua yang sekarang."

"Enak ya jadi, lo. Gue kadang sirik banget sama lo." Wanita itu tertawa pelan. "Kadang hidup, tuh, lucu, ya. Gue dengan segala pikiran negatif gue, dan lo dengan segala pikiran positif lo. Gue selalu mikir, kenapa juga gue mau temenan ama lo yang mulutnya pedes kayak, lo. Lo itu pantesnya jadi musuh gue karena lo nyinyir banget jadi orang. Tapi magnet aja tolak-menolak kalau dihadapkan ke medan yang sama. Jadi, gue gak akan mengeluh."

"Ya, janganlah! Kalau lu ngeluh, nanti siapa yang ngembaliin lu jadi waras."

"Kurang ajar, lo, Mel."

Dan mereka tertawa. Aku tidak mengerti apa yang lucu dari hal itu, tapi mungkin itu lelucon yang hanya dimengerti oleh mereka berdua. Aku mulai merenungkan apa yang mereka ucapkan. Kutegaskan sekali lagi, aku benci ketidaksempurnaan dan aku benci karena aku membenci ketidaksempurnaan. Karena aku adalah salah-satu orang yang memiliki ketidaksempurnaan itu.

•••

IMPERFECT
PenulisTriasacalva
ArtworkerPenaabu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Yuk kita beropini mengenai isi post-nya~

Pages